Nightmare

Tengah malam ku terbangun. Ku keheranan melihat kondisi kamar ku begitu gelap, tanpa sesorot cahaya pun. Tidak terlihat cahaya bulan yang biasanya masuk lewat celah-celah jendela kamar ku. Suasana begitu hening, sepi tanpa suara sedikitpun. Aneh, kenapa begitu lembab suasananya, tidak seperti kamar ku.

Aku belum berani bergerak. Aku berpikir apakah aku tidak berada di kamar ku? Apakah aku diculik? Tidak tidak, aku masih berada diranjang ku, ya ini ranjang ku, kataku dalam hati setelah meraba-raba ukiran kayu dekat tangan ku yang sering kupegang sebelum aku tidur. Kemudian aku bergegas menyalakan lampu di sudut kanan kamar ku. Aku buru-buru turun dari ranjang. Ketika bagian ujung kaki ku menyentuh lantai, seketika angin berhembus ke arah ku. Tidak terlalu kencang tapi sangat mengagetkan karena tidak pernah angin malam masuk ke kamar ku. Apakah jendelanya dibuka? Tanya ku dalam hati. Aku pun semakin takut, jantung ku mulai berdegup kencang. Mulai merasakan keringat dingin di sekujur tubuh. Suasana tetap saja sunyi dan sangat gelap, hanya angin tadi yang membuat sedikit suara. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan. Aku bertanya pada diri sendiri apakah ini kamar ku?

Kemudian aku mencoba meraba-raba permukaan lantai karena hanya itulah yang bisa kulakukan di situasi seperti ini. Aku turun dari ranjang ku dan mulai meraba permukaan lantai dengan kedua kaki ku. Dan hasilnya ini bukan lantai kamar ku. Ini begitu lembab dan dingin. Aku mulai panik. Aku tetap belum bisa mengenali dimana aku. Aku berharap ada cahaya yang lewat, sehingga aku bisa melihat sekitar walaupun sekilas. Beberapa detik aku menunggu serasa lama sekali, aku ketakutan, sangat. Dimulai dari bangun kondisi sangat gelap, angin masuk, dan sekarang aku menyadari aku tidak berada di kamar ku.

Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, tak ada sesorot cahaya pun lewat atau masuk. Mungkin lampu mobil ayah ku yang biasa menyoroti kamarku jika hendak menuju garasi. Tapi bahkan aku tak tahu jam berapa ini. Aku semakin panik, aku memutuskan untuk kembali tidur berharap ini cuma mimpi. Aku membalikan badan ku dan aku pun dikejutkan lagi, ranjang ku menghilang. Seketika jantung ku semakin berdegup kencang. Aku ketakutan setengah mati. Dimana aku?! Tanya ku dalam hati. Sekarang aku benar-benar tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku benar-benar sangat ketakutan, tak sengaja air mata pun menetes. Sekujur tubuhku semakin dingin bahkan aku hanya terpaku diam sambil berusaha menarik nafas. Bahkan aku tak bisa menggerakan jari-jari kaki ku.

Lama sekali aku hanya diam, berdiri disitu tak bergerak, tak berani mengambil langkah. Tiba-tiba aku merasakan kehadiran seseorang atau sesuatu mahluk tak jauh dibelakangku. Kemudian dia mendekati ku, semakin dekat. Aku tidak berani menolehkan kepalaku kebelakan tapi aku tahu dia semakin dekat. Aku dapat merasakannya, sangat dingin dan besar. Aku takut, air mata yang keluar semakin banyak. Ingin aku lari tapi bahkan aku tak bisa bergerak sedikitpun, hanya berdiri disana sedangkan dia semakin dekat. Dan sekarang dia tepat dibelakang ku, tapat dibelakangku kira-kira berjarak setengah meter. Aku ingin berteriak tapi aku takut memperburuk keadaan. Aku hanya diam dan sesuatu dibelakangku juga diam. Suasana kembali sepi, tapi aku masih bisa merasakan mahluk itu ada dibelakangku. Bahkan aku merasakan nafasnya di rambut ku. Sangat dingin. Aku masih ketakutan dan bahkan semakin takut. Tapi mahluk itu tetap hanya diam dan mungkin saja memandangiku dengan auranya yang seram. Aku ingin mengakhiri ini semua, aku yakin aku lebih sempurna daripada mahluk itu. Kemudian sambil ketakutan aku berusaha menoleh kebelakang, dengan sangat pelan dan hati-hati karena susah bagiku untuk bergerak. Belum sempat melihat sosok itu tiba-tiba mahluk itu berteriak sangat kencang, kencang sekali. Suara bising itu tidak dapat kujelaskan. Bahkan itu tidak seperti suara, tapi seuatu partikel gelombang yang tajam dan kuat, yang tidak terlihat yang tapi bisa dirasakan bahkan tidak hanya oleh telinga. Semua ruangan seperti sudah dipenuhi oleh suara itu. Suara itu menekan begitu dalam hingga telinga ku berdearah. Aku sudah menutup telingaku tapi percuma. Suara itu menembus tangan ku. Bahkan kepala ku seakan akan meledak. Mahluk itu tak berhenti berteriak. Dan kemudian mata ku mulai kehilangan fokus. Dipikiran ku aku sudah kehilangan keseimbangan dan mati atau pinsan. Tapi kenyataannya tidak, aku masih berdiri tegak disana.

Kemudian penulispun tak tahu kisah kelanjutannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s