Praktikum Iseng Versi 2

Humph…, menyebalkan dan sungguh tak dapat diterima. Aku xxxxxx dan sekarang lagi pusing mikirinnya. Aku benci merasakan penderitaan itu. Pengennya sih nggak mau, tapi nggak bisa, dan terus menxxxxx.
Aku gengsi, ketimbang dilihatin orang-orang, mending ngumpet dibawah meja. Tapi ngumpet dari dunia aja nggak cukup. Jadi aku menarik buku ilmiah yang seadanya aja, terus aku baca. Hasilnya…, nggak berhasil!
Huh! Untung ada temenku yang bernama Salma menggaetku ke Lab. Awalnya aku minat sih, tapi aku keinget itu, terus aku jadi nggak mau ketemu dia. Klo aku keluyuran, pasti akan bertatap-tatap! Kabuuur!!! Tapi dia ngototnya bukan main. Aku ngalah ah, daripada di Stand HC yang kosong melompong (kecuali makanan dan orang tidur).
Berdiri tegak. “Bersikap biasa! Bersikap biasa! Nggak ada yang terjadi!” aku kembali tersenyum-palsu. Take my shoes…, and…, whoa!!! Totally awful! Aku menemukan matanya!!! Aku jadi pasang mata gothic (rock, gothic, emo-apalah itu sejenisnya). Sambil nahan gemetar, aku ke kantor ngambil silet. Sementara Salma n Tika nyari makanan bwt kambing (Sebenernya daun-daunan)
Setelah misi selesai, aku ke langsung aja ke lab. Kulihat Salma n Tika lagi nyiapin tempat dan pindah-pindah. Mulai deh, aku ngecat dedaunan itu pake cat kuku. Terus tunggu sampai bener-bener dry. Nunggunya lama banget…, akhirnya, Atikah ngeloyor keluar, emank dy nggak minat, cuman korban pencarian daun doank. Sementara menunggu, Salma ngoceh-ngoceh, ttg Acturux dan Formalhaut. Bikin orang tambah murka!
Lama kemudian, pas aku merasa yakin kalau cat-cat (bukan yg bunyinya meow) itu sudah melekat kering, aku mulai bermain dengan siletku dan seusaha-usahanya agar setipis-tipisnya. Huph…, congrats! Aku berhasil, tapi malah Salma menghinanya (nggak nusuk sih). Karena sifatku yang keras kepala, aku menaruh hasil siletan daun tidak terkenal itu diatas preparat yang sebelumnya telah aku teteskan aquades (aqua denk!), kemudian menutupnya dengan penutup preparat, dan menyerahkannya ke Salma yang lagi asyik dengan preparat basah penampang melintang akar (nggak tau gw!).
“Hiiih! Kin!” Anak itu menjerit heboh, sementara aku dongkol karena aku hampir memotong jariku dengan silet baru nan tajam ini. “Hmmh?” reflekku, sambil berdiri dan mendekati dirinya dan mikroskopnya dan cameranya-Tika. Rupanya aku stay cool, “he-e!”

Terus…, kita lanjutin dengan yang lainnya yaitu daun. Huuuh! Cool! Kaya’nya itu stomata ya??!
Aku stress nggak ada daun lagi! Habis…, aku ngerusain semuanya! Mereka terlalu tipis. Jadi aku keluar sebentar, dan mengambil tanaman-tanaman hias (ampuuun Us!!) dan mencoba membuat preparatnya mereka. Entah mengapa…, perasaan itu melanda lagi!! Aku mau screamed waktu itu. Yah…, padahal udah ada kesibukan yang berhasil mengalihkan hal mengerikan itu!
Imam, Apria dan seseorang yang nggak kukenal datang ke lab. Orang itu bergematar dan kaya’nya nggak kuat memandang seseorang! Inalillah! Lenganku terlinting sampe atas, atas, atas!
Dengan datangnya dia, aku memutar bola mata dan kembali sok konsentrasi ke benda-benda itu.
Sebenernya, aku sempat melihat ekspressinya yang rada terkejut, tapi itu ketutupan sama tingkah jahilnya.
Seseorang itu ngasi uang –mboh! Ngapain gue perhatiin!! Orang gue lagi bete!- ke seseorang yang disampingku, dan seseorang yang disampingku itu juga gemeteran, (hh! Terlihat dari senyummu yang gugup itu!!!) tapi sebenernya dia puas lho…!!! Ha ha ha!
Ummh…, jadi ini toh…, xxxxx!
Lama kemudian, Isfan dateng. Nggak penting! Please, no intension of hurting here!
Aku kepengin neliti monera, ganggang atau apalah, mikirnya sih, pertama kali kolam ikan lele didepan TK yang ijo super jorok penuh dengan sampah dan eceng gondoknya-namun, disitulah terjadi kehidupan. Tapi keingetan, kalo sekarang KepSek menyulapnya jadi timbunan pasir. Setelah dipikir…, oh ada! (maklum, bukan semarang bawah, jadinya gotnya nggak gampang!)
Positif! Kita kesana…, tapi! Tunggu dulu! I must be meet him again! Shit! Jadi…, aku motong jalan. Kita lewat belakang, lewat kebun.
Salma terus menggerutu dengan sandalnya, sementara aku santai dan cuek dan terus menjulukinya “sandal tipis”. Aku dan si sandal tipis itu mengarungi medan yang cukup mengesalkan, becek dan berduri. Mana didepan sudah menghadang pohon jatuh lagi! Ck ck! Aku tetep nekat! Pokoknya, jangan sampai ketemu dia lagi!
Hap! Sampailah! Pertama, kami mengobserbasi dulu, mana daerah got yang airnya paling hitam legam, paling busuk dan paling berlalat. Namun, karena musim hujan, yang ada…, bening tapi jorok (sulit mendefinisikan). Awalnya kami ngeri-ngeri an, Salma menjerit-jerit kejijian, namun, atas nama penelitian, aku mengalah (lagi-lagi), aku menyedot dengan mulut, Euh! Nggak lah! Maksudnya pipet. Aduh…, kalimat yg itu loh…, bikin muak!
Beberapa kali menyedot dan memasukannya kedalam gelas aqua. Salma terus mengabadikan moment-moment ini.
Diperjalanan pulang, Salma merayuku agar lewat depan,bukan lewat belakang yang kepenuhan dengan halang rintang, tapi, sedahsyat-dahsyat halang rintang itu, akan tetap kutembus demi meminimalisir potensi ketemu dia!!!
Aku sampai ke lab duluan. Aku mbersiin pipetnya dulu. Pas dy baru dateng, eee, nadanya itu, kaya’ yang the first aja! “Apa!!!?”
Kami melanjutkan pengamatan, Salma menjerit-jerit girang ato jijik, ngeliat segalanya. Mereka menggeliat, berjalan mondar-mandir. Keren! Ada yang bunder-bunder ijo, oval, ada yang cuma lurus doank, ada juga yang bening-bening bulet. Aku suka ngeliatnya! Interest!

PS : Jangan marah!
Maafh, khena sensor…,
Ada bocah kiyut yang nemenin kita di Lab namanya Naswa.
The Dad of Tika sempet came.

Photosnya entaran…, lagi males!

One thought on “Praktikum Iseng Versi 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s